Pelatihan Penerapan PSAK 71, 72, 73: Panduan Lengkap Laporan Keuangan 2025
Rp4.000.000 – Rp5.700.000Rentang harga: Rp4.000.000 hingga Rp5.700.000
Bimtek Pelatihan Penerapan PSAK 71, 72, dan 73 ini krusial untuk Anda! Kuasai standar akuntansi terbaru (adopsi IFRS 9, 15, 16) demi Laporan Keuangan 2025 yang akurat dan transparan. Pelajari PSAK 71 (Instrumen Keuangan), PSAK 72 (Pendapatan), dan PSAK 73 (Sewa) secara mendalam. Pentingnya bimtek ini tak terbantahkan, sebab tanpa pemahaman yang tepat, perusahaan berisiko menghadapi ketidakpatuhan dan kesalahan fatal. Tingkatkan kompetensi dan pastikan laporan finansial Anda sesuai standar global!
LEGALITAS KAMI
DITJEN PAJAK NPWP
1000-0000-0244-9111
NIB: 2305250063339
KBLI : 82302 -85500 -82301-70209-73100
KONTAK KAMI
18 Office Park Building, 21th Floor Unit C
Jl. TB Simatupang No. 18, Pasar Minggu
Jakarta Selatan, 12520
info@peindo.com
0851-7207-9181
Daftar Isi
TogglePelatihan Penerapan PSAK 71, 72, 73: Panduan Lengkap Laporan Keuangan 2025

Pelatihan Penerapan PSAK 71, 72, 73: Panduan Lengkap Laporan Keuangan 2025
Pelatihan Penerapan PSAK 71, 72, 73: Panduan Lengkap Laporan Keuangan 2025. Dunia akuntansi terus bergerak dinamis, menuntut para profesional dan entitas bisnis untuk selalu beradaptasi dengan perubahan standar dan regulasi yang berlaku. Salah satu perubahan paling signifikan dalam lanskap akuntansi Indonesia adalah Penerapan PSAK 71, PSAK 72, dan PSAK 73. Standar akuntansi ini, yang mulai berlaku efektif sejak 1 Januari 2020, merupakan adopsi penuh dari standar akuntansi internasional, yaitu IFRS 9 (Instrumen Keuangan), IFRS 15 (Pendapatan dari Kontrak dengan Pelanggan), dan IFRS 16 (Sewa).
Adopsi ini bukan sekadar penyesuaian minor, melainkan sebuah transformasi fundamental dalam cara entitas mengukur, mengakui, menyajikan, dan mengungkapkan berbagai transaksi keuangan dalam laporan mereka. Konvergensi dengan IFRS ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas, relevansi, dan komparabilitas informasi keuangan di tingkat global, memastikan bahwa laporan keuangan Indonesia sejalan dengan praktik terbaik internasional.
Perubahan mendasar yang dibawa oleh ketiga PSAK ini menuntut pemahaman yang komprehensif dan kemampuan implementasi yang cermat dari setiap entitas. PSAK 71, misalnya, memperkenalkan pendekatan Expected Credit Loss (ECL) untuk mencatat cadangan kerugian kredit, sebuah metode yang jauh berbeda dari model incurred loss sebelumnya dan memerlukan estimasi dan pertimbangan yang lebih kompleks.
Sementara itu, PSAK 72 mengubah secara drastis cara pendapatan diakui, beralih dari pendekatan berbasis risiko dan manfaat ke pendekatan kontrol, yang melibatkan identifikasi lima langkah spesifik dalam pengakuan pendapatan. Tidak kalah penting, PSAK 73 menghapus perbedaan perlakuan akuntansi antara sewa operasi dan sewa pembiayaan bagi penyewa, mewajibkan pengakuan aset hak guna dan kewajiban sewa di neraca untuk sebagian besar kontrak sewa, yang berdampak besar pada metrik keuangan dan rasio solvabilitas perusahaan.
Mengingat kompleksitas dan dampak luas dari ketiga standar ini terhadap laporan keuangan, urgensi untuk memahami dan menerapkan PSAK 71, 72, dan 73 menjadi sangat tinggi, terutama dalam persiapan laporan keuangan tahun 2025 dan seterusnya. Ketidakpatuhan atau kesalahan dalam implementasi dapat berakibat pada laporan keuangan yang tidak akurat, penalti regulasi, bahkan hilangnya kepercayaan investor. Oleh karena itu, pelatihan yang terstruktur dan mendalam menjadi krusial. Pelatihan ini tidak hanya akan membekali peserta dengan teori, tetapi juga dengan aplikasi praktis melalui studi kasus, memastikan bahwa mereka siap menghadapi tantangan implementasi dan mampu menyusun laporan keuangan yang transparan, akuntabel, dan sesuai dengan standar yang berlaku. Inilah saatnya bagi setiap entitas bisnis untuk berinvestasi dalam peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang akuntansi.
Definisi PSAK 71, 72, dan 73
PSAK 71: Instrumen Keuangan secara komprehensif menggantikan PSAK 55 (Revisi 2014) tentang Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran, serta beberapa interpretasi terkait. Standar ini merupakan adopsi dari IFRS 9. Perubahan paling fundamental yang dibawa oleh PSAK 71 adalah pengenalan model kerugian kredit ekspektasian (Expected Credit Loss/ECL). Berbeda dengan model kerugian yang telah terjadi (incurred loss model) yang mengakui kerugian hanya jika sudah ada bukti objektif, model ECL mewajibkan entitas untuk memperkirakan kerugian kredit di masa depan dan mencatat cadangan kerugian tersebut sejak awal masa pinjaman.
Hal ini memerlukan estimasi yang lebih canggih, analisis data historis yang mendalam, serta pertimbangan prospektif mengenai kondisi ekonomi dan bisnis yang mungkin mempengaruhi kemampuan debitur untuk melunasi kewajibannya. PSAK 71 juga mengatur ulang klasifikasi dan pengukuran instrumen keuangan, membedakan antara instrumen yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi, nilai wajar melalui pendapatan komprehensif lain (FVOCI), dan nilai wajar melalui laba rugi (FVTPL), yang semuanya memiliki implikasi signifikan terhadap pelaporan keuangan.
PSAK 72: Pendapatan dari Kontrak dengan Pelanggan menggantikan beberapa standar terkait pendapatan yang berlaku sebelumnya, seperti PSAK 23 (Pendapatan), PSAK 34 (Akuntansi Kontrak Konstruksi), dan PSAK 44 (Akuntansi Aktivitas Pengembangan Real Estat). Standar ini merupakan adopsi dari IFRS 15. PSAK 72 memperkenalkan model lima langkah yang terstruktur untuk pengakuan pendapatan.
Lima langkah tersebut meliputi: (1) Mengidentifikasi kontrak dengan pelanggan; (2) Mengidentifikasi kewajiban pelaksanaan dalam kontrak; (3) Menentukan harga transaksi; (4) Mengalokasikan harga transaksi ke setiap kewajiban pelaksanaan; dan (5) Mengakui pendapatan ketika entitas memenuhi kewajiban pelaksanaan. Pendekatan ini berfokus pada transfer pengendalian barang atau jasa kepada pelanggan, bukan sekadar transfer risiko dan manfaat. Hal ini membawa perubahan signifikan, terutama bagi perusahaan dengan kontrak jangka panjang, pendapatan bundled, atau perjanjian lisensi, yang memerlukan analisis mendalam untuk mengidentifikasi kewajiban pelaksanaan terpisah dan mengalokasikan harga secara tepat.
PSAK 73: Sewa menggantikan PSAK 30 (Sewa) yang berlaku sebelumnya dan merupakan adopsi dari IFRS 16. Perubahan terbesar yang dibawa oleh PSAK 73 adalah penghapusan klasifikasi sewa operasi bagi penyewa. Di bawah PSAK 73, hampir semua kontrak sewa yang berdurasi lebih dari 12 bulan dan tidak melibatkan aset bernilai rendah harus diakui di neraca penyewa sebagai aset hak guna (right-of-use asset) dan kewajiban sewa (lease liability).
Hal ini secara signifikan meningkatkan total aset dan liabilitas di neraca perusahaan, mengubah rasio keuangan seperti rasio utang terhadap ekuitas, dan juga mempengaruhi laporan laba rugi melalui pengakuan beban depresiasi aset hak guna dan beban bunga atas kewajiban sewa. Bagi lessor, PSAK 73 mempertahankan pendekatan klasifikasi sewa sebagai sewa pembiayaan atau sewa operasi, dengan penyesuaian tertentu. Implementasi PSAK 73 memerlukan identifikasi kontrak sewa yang cermat, penentuan tingkat diskonto inkremental, dan manajemen data yang efektif untuk memastikan pengakuan dan pengukuran yang akurat.
Peran dan Pentingnya Pelatihan Ini
Pelatihan penerapan PSAK 71, 72, dan 73 memegang peranan krusial dan sangat penting bagi kelangsungan serta integritas laporan keuangan perusahaan di Indonesia. Ada beberapa poin utama yang menjelaskan urgensi dari pelatihan ini:
Peningkatan Kepatuhan Regulasi: Dengan berlakunya PSAK 71, 72, dan 73 sejak 1 Januari 2020, kepatuhan terhadap standar ini bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban. Regulator seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) secara ketat memantau implementasi standar ini. Pelatihan ini memastikan bahwa entitas memahami secara mendalam persyaratan setiap PSAK dan mampu menerapkannya dengan benar, sehingga terhindar dari sanksi, denda, atau opini audit yang tidak wajar akibat ketidakpatuhan. Kepatuhan yang baik juga meningkatkan kredibilitas perusahaan di mata regulator, investor, dan pihak eksternal lainnya.
Penyusunan Laporan Keuangan yang Akurat dan Transparan: PSAK 71, 72, dan 73 secara fundamental mengubah cara aset, liabilitas, pendapatan, dan beban diakui serta diukur. Misalnya, PSAK 71 dengan model ECL-nya memerlukan estimasi yang lebih kompleks untuk cadangan kerugian kredit, sedangkan PSAK 73 mewajibkan kapitalisasi sewa yang sebelumnya bersifat off-balance sheet. Tanpa pemahaman yang memadai, risiko kesalahan dalam penyusunan laporan keuangan sangat tinggi. Pelatihan ini membekali peserta dengan pengetahuan praktis dan studi kasus nyata, memungkinkan mereka menyusun laporan keuangan yang mencerminkan kondisi keuangan perusahaan secara lebih akurat dan transparan, sesuai dengan kaidah akuntansi terbaru.
Peningkatan Kualitas Pengambilan Keputusan Bisnis: Laporan keuangan yang disusun berdasarkan PSAK terbaru memberikan gambaran yang lebih relevan dan komprehensif mengenai kinerja dan posisi keuangan perusahaan. Informasi yang akurat mengenai instrumen keuangan (PSAK 71), pengakuan pendapatan (PSAK 72), dan dampak sewa (PSAK 73) memungkinkan manajemen untuk membuat keputusan strategis yang lebih baik. Misalnya, analisis yang lebih baik tentang risiko kredit dan arus kas masa depan atau pemahaman yang jelas tentang dampak kewajiban sewa terhadap leverage perusahaan, akan sangat membantu dalam perencanaan bisnis, alokasi sumber daya, dan negosiasi dengan pihak ketiga.
Optimalisasi Efisiensi Operasional: Implementasi PSAK baru seringkali memerlukan perubahan pada sistem informasi akuntansi, proses internal, dan bahkan struktur organisasi. Pelatihan ini tidak hanya fokus pada aspek akuntansi, tetapi juga membahas tantangan implementasi dan solusi praktis. Dengan pemahaman yang kuat, tim keuangan dapat mengidentifikasi area yang memerlukan penyesuaian, mengoptimalkan proses, dan memastikan transisi yang mulus. Efisiensi ini pada akhirnya akan mengurangi waktu dan biaya yang dihabiskan untuk penyusunan laporan keuangan serta meminimalkan risiko revisi di kemudian hari.
Peningkatan Kredibilitas di Mata Investor dan Stakeholder: Laporan keuangan yang sesuai dengan standar akuntansi internasional (IFRS yang diadopsi melalui PSAK) akan meningkatkan komparabilitas dan kepercayaan investor, baik domestik maupun internasional. Investor cenderung memilih perusahaan yang menunjukkan transparansi dan kepatuhan terhadap standar global. Dengan demikian, pelatihan ini secara tidak langsung berkontribusi pada peningkatan daya tarik perusahaan di mata investor, membuka peluang akses ke pasar modal yang lebih luas, dan memperkuat hubungan dengan para pemangku kepentingan.
Materi Pelatihan Penerapan PSAK 71, 72, dan 73 pada Laporan Keuangan
Pelatihan ini dirancang secara sistematis untuk memberikan pemahaman menyeluruh dan keterampilan praktis yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan PSAK 71, 72, dan 73. Materi akan disampaikan dalam dua hari dengan fokus pada standar yang berbeda dan sesi studi kasus mendalam.
Hari Pertama: PSAK 71 & PSAK 72
Sesi 1: PSAK 71 – Instrumen Keuangan
- Tujuan dan Ruang Lingkup PSAK 71: Pembahasan mendalam mengenai mengapa standar ini diperbarui, entitas apa saja yang terpengaruh, serta jenis instrumen keuangan yang masuk dalam cakupannya, termasuk aset keuangan, liabilitas keuangan, dan instrumen ekuitas.
- Klasifikasi dan Pengukuran Instrumen Keuangan: Penjelasan detail mengenai tiga kategori pengukuran utama: biaya perolehan diamortisasi, nilai wajar melalui pendapatan komprehensif lain (FVOCI), dan nilai wajar melalui laba rugi (FVTPL). Sesi ini juga akan membahas kriteria penentuan klasifikasi, termasuk model bisnis entitas dan karakteristik arus kas kontraktual.
- Model Kerugian Kredit Ekspektasian (Expected Credit Loss – ECL): Ini adalah inti dari PSAK 71. Materi akan mencakup konsep ECL, tiga tahapan kerugian kredit, perhitungan ECL 12-bulan dan seumur hidup, serta faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam estimasi ECL seperti informasi prospektif dan historis. Akan diberikan contoh praktis dan skenario perhitungan.
- Pengungkapan dan Penyajian dalam Laporan Keuangan: Peserta akan mempelajari bagaimana PSAK 71 mensyaratkan pengungkapan yang lebih ekstensif mengenai informasi kualitatif dan kuantitatif terkait risiko kredit, risiko likuiditas, dan risiko pasar, serta dampaknya terhadap laporan posisi keuangan dan laporan laba rugi komprehensif.
Sesi 2: PSAK 72 – Pendapatan dari Kontrak dengan Pelanggan
- Lima Langkah Pengakuan Pendapatan: Sesi ini akan membedah secara rinci model lima langkah pengakuan pendapatan yang fundamental:
- Identifikasi kontrak dengan pelanggan: Bagaimana menentukan apakah suatu perjanjian memenuhi definisi kontrak berdasarkan PSAK 72.
- Identifikasi kewajiban pelaksanaan dalam kontrak: Memisahkan janji-janji yang berbeda dalam satu kontrak yang menghasilkan barang atau jasa yang dapat dibedakan.
- Penentuan harga transaksi: Proses menentukan jumlah imbalan yang diharapkan oleh entitas sebagai pengganti barang atau jasa yang dijanjikan. Ini termasuk pertimbangan untuk imbalan variabel, komponen pembiayaan signifikan, dan imbalan nonkas.
- Pengalokasian harga transaksi ke kewajiban pelaksanaan: Bagaimana mendistribusikan harga transaksi ke setiap kewajiban pelaksanaan berdasarkan harga jual berdiri sendiri.
- Pengakuan pendapatan saat kewajiban pelaksanaan dipenuhi: Kapan pendapatan diakui, baik pada suatu titik waktu atau selama periode waktu, berdasarkan transfer pengendalian kepada pelanggan.
- Pertimbangan Khusus dan Pengungkapan: Pembahasan mengenai isu-isu kompleks seperti biaya perolehan kontrak, kontrak yang dijamin dengan hak retur, waranti, principal versus agen, dan berbagai persyaratan pengungkapan yang relevan.
- Lima Langkah Pengakuan Pendapatan: Sesi ini akan membedah secara rinci model lima langkah pengakuan pendapatan yang fundamental:
Hari Kedua: PSAK 73 & Studi Kasus
Sesi 3: PSAK 73 – Sewa
- Definisi dan Ruang Lingkup PSAK 73: Penjelasan mengenai definisi sewa, pembeda antara sewa dan kontrak jasa, serta entitas yang berada dalam cakupan standar ini.
- Identifikasi Kontrak Sewa dan Komponen Sewa: Bagaimana mengidentifikasi adanya sewa dalam suatu kontrak dan memisahkan komponen sewa dari komponen non-sewa.
- Pengakuan dan Pengukuran oleh Lessee (Penyewa): Fokus utama pada model tunggal lessee. Pembahasan detail mengenai pengakuan aset hak guna dan liabilitas sewa di neraca, perhitungan nilai kini pembayaran sewa, penentuan tingkat diskonto inkremental, serta pengakuan beban depresiasi aset hak guna dan beban bunga atas liabilitas sewa di laporan laba rugi.
- Pengakuan dan Pengukuran oleh Lessor (Pemberi Sewa): Meskipun fokus utama pada lessee, sesi ini akan memberikan gambaran tentang perlakuan akuntansi bagi lessor (sewa pembiayaan vs. sewa operasi) dan dampaknya terhadap laporan keuangan mereka.
- Perbedaan Utama dengan PSAK Sebelumnya: Analisis komparatif antara PSAK 73 dan PSAK 30 (Sewa) yang lama, menyoroti perubahan signifikan dan dampaknya.
- Pengungkapan dan Penyajian dalam Laporan Keuangan: Persyaratan pengungkapan yang lebih rinci terkait sewa, termasuk informasi kuantitatif dan kualitatif.
Sesi 4: Studi Kasus dan Diskusi
- Analisis Kasus Nyata Penerapan PSAK 71, 72, dan 73: Peserta akan diajak untuk menganalisis dan menyelesaikan studi kasus yang kompleks, mencakup skenario bisnis riil yang melibatkan implementasi ketiga PSAK. Ini akan mencakup perhitungan, jurnal akuntansi, dan penyajian laporan keuangan.
- Diskusi Tantangan Implementasi dan Solusi Praktis: Sesi interaktif untuk berbagi pengalaman, mengidentifikasi hambatan umum dalam implementasi (misalnya, ketersediaan data, kompleksitas estimasi, perubahan sistem), dan merumuskan solusi strategis untuk mengatasinya.
- Evaluasi Pemahaman Peserta: Melalui kuis, diskusi kelompok, atau presentasi singkat, untuk memastikan bahwa peserta telah memahami konsep kunci dan mampu menerapkannya.
Tujuan dan Manfaat Pelatihan
Pelatihan ini memiliki tujuan mulia untuk membekali para peserta dengan kompetensi yang esensial dalam menghadapi tantangan akuntansi modern. Adapun tujuan dan manfaat spesifik yang akan diperoleh peserta adalah sebagai berikut:
- Memahami Konsep Dasar dan Prinsip Utama PSAK 71, 72, dan 73 secara Menyeluruh: Peserta akan dibimbing untuk tidak hanya sekadar menghafal, tetapi juga memahami filosofi dan rasional di balik setiap standar, termasuk latar belakang adopsi IFRS 9, IFRS 15, dan IFRS 16. Pemahaman mendalam ini penting untuk dapat menerapkan standar secara fleksibel dalam berbagai skenario bisnis yang unik.
- Menguasai Implementasi Praktis dalam Berbagai Skenario Bisnis: Pelatihan tidak berhenti pada teori. Dengan berbagai studi kasus dan contoh praktis, peserta akan belajar bagaimana mengaplikasikan prinsip-prinsip PSAK ke dalam transaksi bisnis sehari-hari, mulai dari bagaimana mencatat instrumen keuangan yang kompleks, mengakui pendapatan dari berbagai jenis kontrak, hingga mengkapitalisasi kontrak sewa. Ini akan memastikan peserta memiliki keterampilan praktis yang dapat langsung diterapkan di lingkungan kerja mereka.
- Menganalisis Dampak Kritis Terhadap Laporan Keuangan Perusahaan: Setiap standar memiliki dampak yang berbeda-beda terhadap pos-pos laporan keuangan. PSAK 71 akan memengaruhi cadangan kerugian kredit dan nilai aset keuangan. PSAK 72 akan mengubah timing dan jumlah pengakuan pendapatan. PSAK 73 akan meningkatkan aset dan liabilitas di neraca serta mengubah profil beban di laporan laba rugi. Pelatihan ini akan secara khusus membahas bagaimana perubahan ini mempengaruhi metrik keuangan kunci, rasio profitabilitas, likuiditas, dan solvabilitas, sehingga peserta dapat mengantisipasi dan menjelaskan dampaknya kepada manajemen dan pihak terkait.
- Mengidentifikasi Tantangan Implementasi dan Merumuskan Solusi Efektif: Implementasi standar akuntansi baru seringkali diiringi dengan tantangan, mulai dari ketersediaan data, kompleksitas perhitungan, hingga kebutuhan perubahan pada sistem informasi akuntansi dan kebijakan internal perusahaan. Pelatihan ini akan membuka ruang diskusi untuk mengidentifikasi tantangan umum yang dihadapi entitas di Indonesia dan berbagi praktik terbaik serta solusi inovatif untuk mengatasinya, memastikan transisi yang lebih mulus dan minim gangguan.
- Meningkatkan Kualitas dan Kredibilitas Laporan Keuangan: Dengan memahami dan menerapkan PSAK 71, 72, dan 73 secara benar, peserta akan mampu menyusun laporan keuangan yang tidak hanya patuh terhadap regulasi, tetapi juga relevan, andal, dan dapat diperbandingkan secara internasional. Laporan keuangan yang berkualitas tinggi akan meningkatkan kepercayaan dari investor, kreditur, dan pemangku kepentingan lainnya, yang pada gilirannya dapat membuka peluang pendanaan dan kolaborasi bisnis yang lebih besar.
Kesimpulan
Perubahan dalam standar akuntansi, khususnya adopsi PSAK 71, 72, dan 73, menandai era baru transparansi dan akuntabilitas dalam pelaporan keuangan di Indonesia. Ini bukan sekadar kewajiban, melainkan sebuah peluang strategis bagi setiap entitas untuk meningkatkan kualitas informasi keuangan, mengoptimalkan pengambilan keputusan, dan memperkuat posisi di pasar global.
Dengan cakupan materi yang mendalam, studi kasus yang relevan, dan diskusi interaktif, Pelatihan Penerapan PSAK 71, 72, 73: Panduan Lengkap Laporan Keuangan 2025 ini adalah investasi krusial bagi para profesional akuntansi dan keuangan. Jangan tunda lagi! Segera daftarkan diri Anda dan tim Anda untuk menjadi bagian dari solusi dan pastikan perusahaan Anda siap menghadapi masa depan pelaporan keuangan dengan percaya diri dan kompetensi penuh. Ambil langkah proaktif ini sekarang untuk memastikan keunggulan dan kepatuhan perusahaan Anda di tahun 2025 dan seterusnya!

Pelatihan Penerapan PSAK 71, 72, 73: Panduan Lengkap Laporan Keuangan 2025
Sehubung Dengan Penjelasan Di Atas, Dalam Rangka Memahami Serta Meningkatkan Kapasitas Dan Kapabilitas Pemerintah Pusat, Daerah Dan Swasta. Maka Kami Dari Pusat Edukasi Indonesia Mengajak Bapak/Ibu/Saudara(i) Untuk Mengikuti Pelatihan Penerapan PSAK 71, 72, 73: Panduan Lengkap Laporan Keuangan 2025
Metode Pelatihan Penerapan PSAK
Pemaparan Materi, diskusi, tanya jawab, studi kasus dan simulasi langsung dengan konsep:
- 20% Teori berdasarkan literatur praktisi
- 40% analisa best practices & benchmarking antara: Institusi, korporasi & Industri
- 40% Studi kasus nyata & brainstorming antara Narasumber / Trainer dengan peserta kegiatan
Pilihan Kelas Pelaksanaan Pelatihan Penerapan PSAK:
- Kelas Tatap Muka Di Hotel
- Online Zoom Meeting
- In House Training
Biaya Pelatihan Penerapan PSAK
- Online Zoom Meeting : Rp. 3.000.000,- (Tiga Juta Rupiah)
- Non Akomodasi Penginapan : @Rp. 4.000.000,- (Empat Juta Rupiah)
- Fasilitas Dengan Penginapan 4 Hari 3 Malam dengan Kamar Twin Sharing (1 Kamar Untuk 2 Orang Peserta) : Rp. 4.800.000,- (Empat Juta Delapan Ratus Ribu Rupiah)
- Fasilitas Dengan Penginapan 4 Hari 3 Malam dengan Kamar Suite Room (1 Kamar Untuk 1 Orang Peserta) : Rp. 5.700.000,- (Lima Juta Tujuh Ratus Ribu Rupiah)
Fasiitas Pelatihan Penerapan PSAK
- Bahan Ajar Modul (Softcopy Dan Hardcopy)
- Seminar Kit
- Kuitansi Pembayaran Perpeserta
- Sertifikat
- Tas Kegiatan
- Konsumsi Dan Coffe Break Selama Kegiatan
- Kartu Tanda Peserta
- Penjemputan Di Bandara / Stasiun Bagi Peserta Rombongan Minimal 8 Orang Peserta
Tata Cara Pendaftaran Pelatihan Penerapan PSAK:
- Surat Undangan Kegiatan Beserta Jadwal Kegiatan Akan Dikirimkan Setelah Melakukan Konfirmasi Melalui Panitia Arie Hp/Wa: 0851-7207-9181
- Surat Undangan Kegiatan Akan Dikirimkan Via E-Mail Dan/Atau Whatsapp
- Bagi Peserta Minimal 5 Orang Dapat Menentukan Waktu, Tempat Dan Materi Kegiatan Sesuai Kebutuhan Peserta
- Pendaftaran Paling Lambat 3 Hari Sebelum Pelaksanaan Kegiatan
- Tema, Materi Serta Rundown Kegiatan Dapat Menyesuaikan Keinginan Peserta
Kontak Person Bimtek Penerapan PSAK
- Arie – Hp/Wa: 0851-7207-9181
- website : peindo.com

Pelatihan Penerapan PSAK 71, 72, 73: Panduan Lengkap Laporan Keuangan 2025
| Penginapan |
Penginapan (Twin Sharing) ,Tanpa Menginap ,Penginapan (Suite Room) |
|---|

